skip to main |
skip to sidebar
Bagi Anda sebagai
guru, Anda bisa menceritakan kisah di atas kepada siswa-siswi Anda, terutama
bagi yang sering mengeluarkan baju pada saat di sekolah. Salah satu harga diri
seseorang adalah dilihat dari pakaian yang ia kenakan. Bukan pakaian yang mahal
yang harga dirinya tinggi, namun orang tersebut bisa berpakaian sesuai dengan
situasi dan kondisi. Pakaian yang murah jika bisa memakainya sesuai dengan
aturan yang benar, maka akan membuat pemakainya mempunyai harga diri yang
tinggi dan bisa membawa keberuntungan.
Tulisan di atas
adalah berdasarkan catatan dari saya sebagai pendidik/guru. Tugas pendidik
bukan hanya mengajar di kelas saja tanpa memperhatikan tingkah laku siswanya,
termasuk dalam berpakaian.
Rabu, 14 Januari 2026
LAPORAN REKAPITULASI REALISASI PENGUNAAN DANA BOS REGULER TAHAP II TAHUN 2025 DI SMK CUT NYA DIEN SEMARANG
Senin, 21 Juli 2025
REKAPITULASI REALISASI PENGGUNAAN DANA BOS REGULER SMK CUT NYA DIEN SEMARANG PERIODE JANUARI - JUNI 2025
Jumat, 26 Oktober 2018
KISAH
TIDAK DITERIMA KERJA KARENA KEBIASAAN MENGELUARKAN BAJU
By Cauchy
Murtopo on 9 April 2015
@https://cauchymurtopo.wordpress.com/2015/04/09/seberapa-pentingkah-siswa-harus-memasukkan-baju/
Kisah ini
semoga menjadi pembelajaran bagi guru maupun siswa betapa pentingnya siswa
harus memasukkan baju seragamnya. Kisah ini dari teman yang pandai, namun salah
satu kebiasaan buruknya sejak SMP tidak memasukkan baju seragam. Sebut saja YD,
YD hanya memasukkan baju jika sangat terpaksa, misal pada saat upaca bendera.
Jika sudah selesai upacara bendera baju dikeluarkan lagi. Di dalam kelas baju
juga selalu dikeluarkan. Sampai mahasiswa YD juga tak pernah memasukkan
bajunya.
YD sebenarnya
siswa yang sangat beruntung bisa masuk ke sebuah universitas terkenal di salah
satu kota di Jawa. YD juga termasuk mahasiswa yang lulus dengan IPK yang bagus,
di atas 3 dengan waktu studi yang kurang dari 4 tahun.
Suatu saat YD
melamar ke sebuah perusahaan terkenal yang sejak sekolah ia incar untuk bekerja
di situ. Saking penginnya kerja di perusahaan tersebut, YD rela membeli
beberapa pedoman tes supaya ia diterima kerja. Buku tentang psikotes dan
pedoman wawancara adalah buku yang ia beli. Untuk masalah tes bidang teknik
sudah tidak diragukan lagi.
YD melamar
beserta sekitar 600 orang lain yang menginginkan posisis di 5 bagian penting di
perusahaan tersebut. Dari posisi tersebut yang dibutuhkan adalah lulusan
teknik, MIPA, ekonomi, dan statistik. YD sangat yakin jika dirinya bakal
diterima. Untuk itu ia mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.
Dari seleksi
administrasi YD lolos. Untuk tes tertulis, YD masuk pada peringkat pertama dari
20. Ini artinya kemampuan koknitif YD sangat bagus. Pada saat tes tertulis, YD
tidak memasukkan bajunya. Baginya ini bukan saat yang menentukan diterima atau
tidak diterima, jadi YD cuek saja.
Pada tes
tertulis diambil 20 orang saja untuk mengikuti tes wawancara. Tes wawancara
ditentukan tiga hari kemudian setelah pengumuman tes tertulis. YD mempersiapkan
dengan membaca-baca buku tentang pedoman wawancara kerja.
Pada hari
yang ditentukan, YD dipanggil untuk mengikuti tes wawancara. YD mendapat
giliran pertama sesuai dengan ranking tes tertulis pada posisi ranking satu.
Pada saat wawancara YD bisa menjawab semua pertanyaan dengan lancar. Pada saat
tes wawancara YD memasukkan bajunya. Tes wawancara sekitar 15 menit berada di
lantai dua. Selesai wawancara YD langsung mengeluarkan bajunya dan menuju
parkir motor yang ada di samping gedung tempat YD wawancara tadi.
Pada saat YD
berada di tempat parkir alangkah terkejutnya personalia yang baru saja
mewawancarai YD. Personalia melihat dari kaca jendela lantai dua tempat tes
wawancara. Tak menyangka jika YD yang tes tertulis pada posisi ranking pertama
mempunyai kebiasaan tidak memasukkan baju. Jadi pikir personalia tadi, YD
memasukkan baju hanya terpaksa karena mengikuti tes wawancara saja.
Pengumuman
diterima atau tidak diterima tiga hari setelah tes wawancara. Di hari yang
telah ditentukan, ternyata YD tidak diterima kerja di perusahaan besar yang
selama ini sudah ia incar sejak SMA. Saat itu pula YD protes. Awalnya YD
memasukkan baju, namun karena tidak diterima maka baju yang dimasukkan rapi
dikerluarkan. YD berpikir bahwa memasukkan baju atau tidak tak akan berpengaruh
pada penerimaan kerja. Buktinya, pada saat wawancara ia memasukan baju dan bisa
menjawab dengan lancar semua pertanyaan juga tidak diterima.
YD langsung
protes menemui personalia yang ada di lantai dua. YD mempertanyakan kenapa ia
yang ranking pertama pada saat tes tertulis tidak diterima dan yang ranking 20
justru diterima. YD juga protes pada saat tes wawancara ia bisa menjawab
pertanyaan dengan lancar kenapa tidak diterima.
Dengan
santainya personalia menjawab protes YD. “Anda memang cerdas, ini dibuktikan
dari 600 lebih pelamar, tes tertulis Anda ranking pertama. Namun, apakah Anda
sadar jika ada keterpaksaan pada diri Anda? Anda sepertinya sangat terpaksa
untuk memasukkan baju. Pada saat Anda wawancara Anda memasukkan baju dengan
rapi. Anda juga bisa menjawab semua pertanyaan saya dengan lancar. Awalnya saya
tertarik kepada Anda supaya bergabung di perusahaan kami. Namun, begitu saya
melihat Anda di tempat parkir mengeluarkan baju, saya langsung mencoret nama
Anda.”
YD terdiam
dan tidak bisa membantah personalia. Kemudian personalia melanjutkan ucapannya.
“Tahukah Anda, jika Anda kami terima bergabung di perusahaan kami, mungkin Anda
hanya mematuhi peraturan pada saat pimpinan bersama Anda saja, pada saat
pimpinan tidak ada, Anda bekerja seenaknya. Ini bisa tercermin dari cara Anda
yang selalu mengeluarkan baju. Saat Anda protes ke sini juga tidak memasukkan
baju, bukan? Kami tidak hanya mencari karyawan yang pandai saja, namun juga
yang berkomitmen dan bekerja sungguh-sungguh serta yang mempunyai perilaku
sopan.”
Akhirnya YD
keluar ruangan dengan sangat kecewa. Ternyata tidak kali ini saja YD tidak
diterima kerja karena sombong dan tidak memasukkan baju. Beberapa tes tertulis
lulus, namun pada saat tes wawancara gagal.
Dari kisah di
atas, bisa dijadikan referensi bagi siswa tentang pentingnya memasukkan baju
seragam. Bagi Anda yang ingin mencari kerja, Anda harus berhati-hati dalam
berpakaian. Kebiasaan seperti YD yang tidak memasukkan baju bisa berujung tidak
diterima kerja. Orang yang bekerja di personalia biasanya lulusan sarjana
bahkan magister psikologi, jadi mengetahui tentang kepribadian seseorang dari
berbagai hal, termasuk dalam berpakaian.
TIDAK MEMASUKKAN BAJU DAN AKHLAK SISWA
By Cauchy Murtopo on 16 Oktober 2017
@https://cauchymurtopo.wordpress.com/2017/10/16/tidak-memasukkan-baju-dan-akhlak-siswa/
Siswa yang
belajar di sekolah dari tingkat Kelompok Bermain (KB) sampai menengah atas
umumnya berseragam. Siswa dari tingkat dasar (SD/MI)sampai menengah atas
(SMA/MA/SMK) memiliki tiga jenis pakaian seragam sekolah. Ketiga seragam
sekolah tersebut adalah seragam nasional, pramuka, dan seragam ciri khas
sekolah tersebut.
Berdasarkan
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 45 Tahun 2014,
seragam nasional dipakai pada hari Senin dan Selasa. Sementara untuk seragam
ciri khas sekolah dan kepramukaan dipakai selain hari Senin, Selasa, dan hari
dimana ada Upacara Bendera.
Seragam
nasional atasan putih dan bawahan merah untuk SD/MI, atasan putih dan bawahan
biru untuk SMP/MTs, serta atasan putih dan bawahan abu-abu untuk SMA/MA/SMK.
Seragam nasional untuk atasan (baju) harus dimasukkan, terutama bagi putra.
Sementara untuk madrasah seragam nasional untuk putri bisa tidak dimasukkan,
hal ini sesuai dengan kebijakan masing-masing madrasah.
Seragam ciri
khas sekolah adalah seragam yang menjadi ciri khas sekolah/madrasah. Hal ini
bisa membedakan antara sekolah yang satu dengan yang lainnya. Seragam ciri khas
sekolah bisa dimasukkan atau tidak dimasukkan. Misalnya seragam sekolah baju
batik ada yang dimasukkan dan ada yang tidak.
Bagi sekolah
yang bisa dibilang ‘bagus’ atau bahkan dianggap favorit oleh masyarakat, hampir
tak ada masalah dengan seragam sekolah. Siswa akan menurut aturan sekolah untuk
memasukkan bajunya. Dari rumah, di perjalanan, di sekolah, dan pulang sampai
rumah lagi baju seragam sekolah tetap rapi dimasukkan.
Meskipun
kelihatannya masalah sepele, gampang memasukkan baju, namun tak jarang di
lapangan praktiknya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tak sedikit siswa
pada sekolah ‘pinggiran’ atau sekolah yang ‘tidak bagus’ tidak mengindahkan
aturan harus memasukkan baju. Hal ini bertepuk sebelah tangan dengan sekolah
‘bagus’.
Entah apa di benak mereka sehingga susah sekali disuruh memasukkan
baju. Mulai dari rumah, di perjalanan, bahkan sampai di sekolah pun jika tidak
terpaksa untuk memasukkan baju, maka mereka akan tetap mengeluarkan baju.
Bahkan, tak sedikit siswa yang awalnya di sekolah memasukkan baju, pada saat
istirahat baju dikeluarkan.
Beberapa
siswa saat di kelas ada yang memasukkan baju dan ada yang tidak. Pada saat jam
pelajaran tertentu karena gurunya disiplin, maka siswa akan memasukkan baju.
Nmaun, pada saat jam tertentu yang gurunya kurang disiplin, tidak memperhatikan
seragam siswa, maka mereka akan segera mengeluarkan baju. Menyuruh memasukan
baju pada siswa seperti ini seperti menyuruh mereka menagngkat beban satu ton.
Fenomena ini
sangat memprihatinkan bagi kalangan pendidik. Beberapa faktor sehingga siswa
enggan untuk memasukkan bajunya. Faktor-faktor tersebut bisa dari dalam dan
luar sekolah.
1. Tidak diperhatikan
orang tua
Tak sedikit
siswa yang tidak mau memasukkan baju karena kurang atau bahkan tidak
diperhatikan oleh orang tua. Karena kesibukan orang tua, mereka tidak
memperhatikan apa yang harus dilakukan anaknya, termasuk dalam hal pakaian
seragam sekolah. Mau memasukkan baju atau tidak orang tua mereka tidak peduli.
Tak sedikit
orang tua yang bekerja sebagai karyawan pabrik atau kantoran atau buruh yang
harus berangkat pagi-pagi ke tempat kerja. Hal ini kerap terjadi di daerah
perkotaan. Pada saat mereka berangkat kerja anaknya belum bangun. Sementara
saat pulang dan sampai di rumah anaknya sudah tidur atau malah tidak ada di
rumah karena masih main.
Kurangnya
komunikasi antara orang tua dengan anaknya juga sangat berpengaruh pada seragam
apa yang harus dipakai oleh anaknya. Saat sampai di rumah orang tua tidak
segera menemui anaknya untuk menanyakan tentang apa yang telah dilakukan di
sekolah, termasuk seragam sekolah.
2. Lingkungan tempat
tinggal
Lingkungan
tempat tinggal siswa sangat berpengaruh pada tingkah laku siswa. Tak bisa
dipungkiri lagi bahwa anak dibesarkan pada lingkungan tempat tinggalnya akan
membentuk sifat dan karakter anak. Lingkungan yang kondusif akan mendukung anak
untuk menjadi baik. Namun sebaliknya, lingkungan yang semrawut seperti banyak
orang mabuk, pakaian yang dikenakan tak pantas dan tak sopan akan membentuk
karakter anak seperti pada lingkungannya pula.
3. Media
Tak sedikit
anak yang mengikuti tingkah laku atau gaya pada apa yang mereka lihat dan
dengar dari media dari pada guru dan orang tuanya. Sinema elektronik (sinetron)
adalah media yang sangat mudah mempengaruhi tingkah laku siswa, termasuk dalam
seragam. Adegan siswa pada sinetron yang tidak pantas ditiru seperti baju
seragam sekolah yang tidak dimasukkan, seragam sekolah dengan rok mini membuat
anak akan mengikutinya. Mereka akan menerapkan apa yang mereka lihat pada
seragam sekolahnya.
Peran media
sangatlah besar dalam mengubah tingkah laku siswa. Seharusnya sutradara
sinetron saat ada adegan sekolah juga harus memperhatikan etika dan aturan
seperti baju seragam nasional harus dimasukkan. Para sutradara harus mencari
informasi tentang aturan seragam tersebut. Jangan hanya mengambil keuntungan
komersial semata tanpa memikirkan akibat ke depannya.
Komisi
penyiaran juga harus menerapkan sensor yang ketat. Apalagi pada adegan-adegan
yang kurang atau bahkan tidak mendidik sama sekali, termasuk dalam hal seragam
sekolah pada saat ada adegan anak sekolah.
4. Peraturan sekolah
Peraturan
sekolah yang ketat membuat para siswa tertib dan disiplin, termasuk dalam hal
seragam. Namun, peraturan yang longgar akan menjadikan celah untuk pelanggaran,
termasuk urusan seragam sekolah.
Tak sedikit
sekolah sudah memiliki aturan yang disiplin, termasuk dalam hal seragam. Namun,
jika yang harus mengawasi pelaksanaan aturan itu tidak berfungsi, maka hanya
isapan jempol saja. Siapa yang mengawasi aturan ini? Tentu para pendidik yang
tiap hari tidak hanya mengajar di dalam kelas saja, namun juga mendidik,
membimbing dan mengarahkan siswa meskipun di luar kelas.
Guru yang
disiplin bagi siswa yang rajin dan pandai sangat disenangi. Karena, bagi mereka
guru yang seperti ini akan menginspirasi supaya masa depan menjadi baik. Namun
sebaliknya, guru disiplin bagi siswa yang nakal, bandel, dan tidak mau mematuhi
peraturan akan dibenci.
Siswa yang
memasukkan baju dengan rapi akan kelihatan lebih indah untuk dipandang. Siswa
yang memiliki nilai akademik yang bagus biasanya juga selalu mematuhi
peraturan, termasuk memasukkan baju seragamnya. Pada catatan di guru Bimbingan
Konseling (BK) pun tidak ada masalah bagi siswa yang memasukkan baju.
Namun, siswa
yang selalu mengeluarkan baju biasanya banyak catatan negatif di BK. Tak
sedikit siswa yang tidak mau memasukkan baju memiliki akhlak atau tingkah laku
yang kurang atau tidak baik. Beberapa kali orang tua dipanggil tidak hanya
masalah seragam, melainkan juga masalah yang lainnya. Bahkan, karena banyaknya
pelanggaran tak jarang siswa seperti ini dengan sangat terpaksa ada yang
dikeluarkan.
Kelihatannya
masalah sepele, hanya tidak memasukkan baju meskipun pakaian seragam sesuai,
namun ini adalah awal dari masa depan anak. Jika hal ini dibiarkan bukan hal
yang tidak mungkin anak-anak seperti ini memiliki masalah yang besar di
kemudian hari. Masalah kriminal atau yang lain bisa jadi dimulai dari siswa
tidak mau memasukkan baju.
Bahkan
masalah korupsi yang saat ini menjadi perhatian serius dari berbagai negara di
dunia ini awalnya bisa jadi dari koruptor saat menjadi siswa tidak mau
memasukkan baju. Oleh sebab itu perlu penanganan yang serius meskipun
kelihatannya sepele.
Kamis, 12 April 2018
Selasa, 10 April 2018
Blog Archive
Diberdayakan oleh Blogger.
Popular Posts
-
TIDAK MEMASUKKAN BAJU DAN AKHLAK SISWA By Cauchy Murtopo on 16 Oktober 2017 @https://cauchymurtopo.wordpress.com/2017/10/16/tidak-mem...
-
Pemberian uang pembinaan kepada siswa SMK Cut Nya' Dien Semarang yang juara Lomba Pidato
-
Elang sumber : http://eposlima.blogspot.co.id Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang didunia. Umurnya dapa...
-
Ujian Akhir Semester merupakan suatu hal yang harus dihadapi untuk mengetes kemampuan kita dan mengetes seberapa rajin kah kita s...


.jpeg)


